Harga Prasasti Peresmian Termurah di Tulungagung

Harga Prasasti Peresmian Termurah di Tulungagung

Harga Prasasti Peresmian - Dalam hal ini kedua pakar itu tidak berbeda pendapat. Suklapaksa dan Krsnapaksa. . Tanggal 1 Sukla bulan Caitra tahun 857 Saka bersamaai» dengan tanggal 8 Maret 935 Masehi. Pada tanggal 12 Krsnapaksa bulan Caitra, bertepatan dengan hari HA KA SU 3 April 935 atau tanggal 4 April WU U SA. Sementara itu tanggal 1 Sukla bulan Caitra tahun 859 Saka, bertepatan dengan tanggal 15 Maret 937 Masehi, sedang tanggal 12 Krsnapaksa bulan Caitra tahun 859 Saka, jatuh pada tanggal 10 April 937 Masehi, dengan hari pekan HA PO SO atau WU WA ANG. Dalam prasasti Anjuk Ladang itu unsur hari pekannya terbaca Ha atau Hari yang dalam pekan Sadwara, atas dasar data itu bersesuaian dengan PO atau Pon pekan Saptawara, serta bertepatan dengan hari SO atau Soma pekan Saptawara. Dengan demikian berdasar- kan data penanggalan yangtercantum pada prasasti Anjuk Ladang yaitu tanggal 12 bulan Caitra dengan hari pekan Hari yang jika tahunnya dibaca 857 Saka menurut Brandes, terdapat ketidak sesuaian antara unsur hari pekannya antara Sadwara, Paneawara.

Prasasti Peresmian Granit
Prasasti Peresmian Granit

Hipotesa yang menggambarkan Prasasti Anjuk Ladang sebagai suatu monumen kemenangan terhadap serangan musuh secara langsung tidak didukung oleh prasasti itu sendiri. Apalagi jika dikaitkan dengan jasa Pu Sindok sebagai penyelamat dan panglima perang, yang menjadikan ia dipromosikan sebagai raja. ”, sehingga desa itu dibebaskan dari pajak, ia telah menjadi raja selama delapan tahun. Dengan kata lain jika memang terbukti sima anjuk ladang itu ada hubungannya balas budi Sindok kepada penduduk watek Anjuk Ladang, ketika masih memangku jabatan rakai Mapatih, atau rakai Halu atau Hino, prasasti manakah yang memberikan keterangan tentang kemenangan terhadap musuh dari Sriwijaya itu. Tampaknya prasasti Kinawe dari raja Wawa (928 - 929) yang berasal dari daerah Berbek tidak memberi dukungan hipotesa tersebut. Suatu data yang tidak diragukan adalah adanya hubungan antara penetapan swatantra kepada kepala desa (Rama) di Anjuk Ladang itu, dengan sebuah bangunan suci seorang tokoh yang cukup penting yaitu : bhatara i sang hyang prasada kabaktyan i dharma samgat pu anjukladang atau samgat anjukladang.

Prasasti Peresmian Termurah di Tulungagung

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa nama desa Anjukladang berkaitan dengan pejabat Watek, Rama, dan Samgat, serta bangunan suci Sri Jayamrata, barangkali sebuah Patirtan yang terletak tidak jauh dari Candi Lor sekarang. Ataukah bangunan yang disebut “sang hyang prasada kabaktyan i dharma samgat i anjukladang” itu, pada abad X tidak lain Candi Lor sekarang. Di tempat candi itu berdiri terletak desa Candirejo, disitulah pada tahun 1913, ditemukan sejumlah patung perunggu yang menggambarkan pantheon Budhisme Mahayana, dari sekte yang khas mengungkapkan tradisi kerajaan setempat. Penemuan arkeologis disekitar desa Candirejo tempat Candi Lor itu berdiri, membuktikan bahwa ditempat itulah pada abad X merupakan Watek Anjuk Ladang, tempat berdirinya bangunan suci “Sang Hyang Prasada Kabaktyaan i Anjukladang”, yang tertulis dalam baris 27 prasasti Candi Lor itu. Nama itu hidup terus sejak 10 abad lalu dan dalam perjalanan sejarah tetap lestari meskipun dalam ucapan yang telah berubah. Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit - Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Harimintadji, dkk.

Harga Prasasti Peresmian Termurah

2) Raja yang memerintahkan pembuatan prasasti yaitu Sri Maharaja mpu Sindok Isana Wikrama Dharmmotunggadewa. Birokrasi, Sistem dan Struktur pejabat pemerintahan terutama pejabat yang dilibatkan dalam pembuatan prasasti mulai dari pejabat tinggi atau pejabat Pemerintah Pusat, pejabat menengah sampai pejabat tingkat rendah yaitu pejabat perangkat desa. 3) Sambandha Alasan (latar belakang) pembuatan prasasti. Yaitu pejabat-pejabat pemungut (penarik) pajak yang sejak ‘dikeluarkannya prasasti tidak lagi diperkenankan memasuki desa yang telah dijadikan desa suci (sakral) atau desa Otonom (perdikan) bebas pajak dan disebut Sima Swatantra. Pejabat pemungut pajak tersebut jumlahnya cukup banyak dalam prasasti Anjuk Ladang disebutkan lebih dari enampuluh pejabat, diantaranya yang terkenal adalah : pangkur, tawan, tirip. Yaitu hadiah atau persembahan yang disampaikan oleh sekelompok orang yang memperoleh anugerah dari Sang Maharaja (dalam hubungannya dengan pemberian perdikan atau status otonom, bebas pajak Desa Anjuk Ladang) kepada pejabat-pejabat pemerintahan yang hadir dalam upacara. Dalam prasasti Anjuk Ladang. 43 Orang. Pasak-Pasak itu berwujud Emas dalam berbagai ukOran/ satuan dan pakaian.

Jual Prasasti Peresmian Granit
Jual Prasasti Peresmian Granit

Di bagian muka (Recto) terdiri atas 49 baris. 5 sampai baris ke-8 sudah sangat aus, sehingga tidak terbaca lagi. Mulai awal baris ke-2 yang memuat unsur kalendriknya juga tidak terbaca karena keausan hurufnya. Di bagian belakang (Verso) segaris dengan baris 23 berakhir pada baris ke 36, sebagai bagian yang memuat harapan agar yang dituliskan dalam prasasti ini, dipatuhi hingga akhir zaman. Prasasti Candi Lor ini. Anjuk Ladang. menurut nama desa atau satuan wilayah yang disebutkan berkali-kali, dalam kaitan maksud pengeluaran prasasti tersebut, (Sambandha). Berikut ini kami kutipkan bagian penting yang memuat unsur penanggalannya, raja serta para pejabat tinggi yang mendapat anugerah kedudukan sebagai Swatantra.

Harga Prasasti Granit Murah

Oleh karena itu dengan menggunakan rumus perhitungan yang disusun oleh L.C. Aditya Saptawara, maka hari pertama tahun 937, jatuh pada hari kedua sesuai dengan Ha Sadwara, atau PO Pancawara, atau SO Saptawara. Atas dasar perhitungan tersebut, data penanggalan prasasti Anjuk Ladang tanggal 12 Krsnapaksa Ha bulan Caitra tahun 859 Saka, bersesuaian dengan 10 April 937 Masehi. 3. Peristiwa apakah yang diungkapkan dalam prasasti Anjuk Ladang dan apakah makna yang terungkap dalam prasasti itu dalam konteks sejarah Nusantara dan sejarah regional Jawa Timur pada awal abad X ? Berikut penafsiran yang pernah dikemukakan oleh pakar epigrafi dan sejarah klasik Indonesia, Prof.Dr.J.G. Casparis, 34 tahun yang lalu. Melayu ialah daerah Jambi yang patuh kepada Sriwijaya mendarat di Jawa Timur. Pasukan itu sampai dekat Nganjuk, tetapi disana menderita kekalahan oleh laskar Jawa yang dipimpin oleh Pu Sindok. Peristiwa yang penting itu kita ketahui dari sebuah prasasti Sindok yang berangka tahun 937 (?). Prasasti itu mengenai sebatang tugu kemenangan (Jaya stambha) bertempat di Anjuk Ladang, beberapa kilometer sebelah selatan kota Nganjuk yang sekarang.

Contoh Prasasti Granit Paling Laris

Besar kecilnya pasak-pasak disesuaikan dengan tinggi rendahnya pejabat yang menerima. Yaitu upacara penetapan Anjuk ladang sebagai desa perdikan Sima Swatantra yang dilakukan dengan melaksanakan seperangkat upacara suci (ritual) upacara ini melibatkan sejumlah petugas, alat-alat, dan barang-barang sesaji. Upacara tersebut disebut manasuk sima. Benda-benda sesaji dan alat- alat yang dipergunakan antara lain : Telur, Ayam, Kepala Kerbau, Alat-alat dapur, Kalumpang, dll. Sedang petugas upacara disebut madukur. 7) Sapatha atau kutukan. Sebagai upacara penutup adalah kutukan dan sumpah serapah bagi siapa saja yang melanggar dan tidak mematuhi isi prasasti, serta Do’a keselamatan dan kesejahteraan bagi yang mematuhinya. Kutukan itu diungkapkan dalam berbagai pernyataan yang menyeramkan dan mengerikan. Misalnya : Semoga dikoyak-koyak badannya oleh para dewa, dicaplok harimau bila masuk hutan, dimakan buaya bila mandi di sungai, disambar petir bila hujan, dipathuk ular berbisa. Seperti halnya prasasti Hering, angka tahun yang dipahatkan sudah aus, dan angka yang masih cukup jelas menunjukkan angka 8 diikuti dua angka yang sudah kabur.




Untuk pemesanan produk dengan model, bahan dan ukuran diluar yang sudah kami sediakan silahkan hubungi kami.


APRELLIA DEWI
Jl. Kanigoro Gg 4 No. 36 Dsn. Blumbang, Ds. Campurdarat, Kec. Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur 66272

Posting Komentar untuk "Harga Prasasti Peresmian Termurah di Tulungagung"